Foto Bercerita

Sabtu, 8 September 2012 lalu, saya mengikuti seminar fotografi yang sangat menarik. Ada tiga pembicara dan salah satunya adalah Kang Feri Latief, fotografer National Geography. Beliau membagikan materi mengenai how to tell the story (photostory). Bagi saya sendiri photostory (foto bercerita) adalah istilah baru. Maklum selama ini masih berkecimpung di dunia permodelan, baru mulai beralih ke dunia fotografi :p

Foto yang bagus adalah foto yang memancarkan emosi!“, begitu ujar beliau menjawab pertanyaannya sendiri mengenai apa yang dimaksud dengan foto yang bagus. Bila emosi yang dirasakan oleh yang melihat foto sama dengan emosi yang dirasakan oleh subjek/objek fotografer, maka itu adalah foto yang bagus. Tentu saja emosi yang dirasakan adalah emosi universal: marah, sedih, senang, gusar, dan lain-lain yang merupakan respon manusia secara universal. Misalnya saja mana ada orang yang terlihat senang bila melihat foto korban perilaku yang tidak berperi kemanusiaan.

Dari foto ke foto ternyata dapat menjalin suatu rangkaian cerita yang disebut photostoryPhotostory berbeda dengan photo essay dari sudut maksud pengambilan gambar dan ada tidaknya opini sang fotografer yang tercermin dalam foto tersebut.

Komponen yang sebaiknya ada dalam photostory adalah foto pembuka (usahakan yang menarik perhatian), environment (capture lingkungan sekitar objek foto), portrait (objek), relationship (relasi objek dengan sesuatu), detail, dan foto penutup.

This slideshow requires JavaScript.

Beliau pun memutarkan beberapa video hasil photostory yang telah dibuat. Peristiwa Natal di daerah Nusa Tenggara dikemas dalam bentuk foto yang bercerita. Menakjubkan sekali!! Sayang saya tidak bisa menunjukkannya, hehe…

Sebagai contoh Anda bisa cari di situs-situs terpercaya, ternyata sudah banyak yang upload foto dalam bentuk photostory. Karena sebenarnya saya suka cerita dan foto, lukman pun demikian, maka kami membuat beberapa photostory dari perjalanan yang sudah berlalu (masih sempat membuat 2, hehe). Dapat dinikmati di sini 🙂

Meng’hire’ Pemimpin

Sebagai anak muda yang sedang mewujudkan impian dalam kehidupannya, menjalani interview di perusahaan ini dan itu  dengan berbagai pertanyaan yang aneh tapi menantang rasanya sungguh menggairahkan. Sambil memutar otak memikirkan jawaban yang pas, sang anak muda berupaya sekuat tenaga menunjukkan kemampuan dan kecocokan dirinya dengan posisi yang diincarnya dengan menunjukkan sikap tubuh yang mantap, dengan mengeluarakan nada suara tanpa keraguan, dst. dst.. Setelah selesai wawancara, sang anak muda kelelahan namun lega karena telah berhasil melewati ‘lubang jarum’ yang lain dan kini tiba saatnya menunggu hasil interviewnya dengan harap-harap cemas.

Di sisi lain, interviewer berusaha menggali sebanyak mungkin karakter dan kemampuan sang anak muda tadi untuk memastikan bahwa anak muda tersebut adalah orang yang tepat untuk menempati posisi yang sedang lowong itu. Karena “mbah gugel” sakti mandraguna, banyaklah berbagai tipe pertanyaan interview aneh yang berseliweran di internet beserta jawabannya! Alhasil interviewer harus mencari pertanyaan lain yang original dan mungkin super aneh untuk menggali keaslian keoriginalan jawaban dari sang anak muda.

Dua paragraf di atas menggambarkan apa yang terjadi dalam proses rekrutmen. Saya melihat ada kemiripan antara proses rekrutmen dengan proses pemilihan umum untuk meng’hire’ pemimpin. Dalam  pemilu, pemilih (rakyat) berperan sebagai perekrut dan calon pemimpin dapat dipandang sebagai calon pegawai. Tugas rakyat adalah memilih orang yang tepat untuk menduduki jabatan sebagai pemimpin. Secara umum masalah yang dihadapi oleh perekrut dan rakyat adalah memilih orang yang tepat untuk posisi yang tersedia.

Setelah melihat adanya kesamaan masalah yang dihadapi oleh perekrut dan rakyat dalam pemilu, maka kita bisa meminjam alat-alat yang digunakan oleh perekrut dalam pemilu untuk membantu rakyat memilih calon pemimpin yang tepat! Ok, langsung saja kita pinjam peralatan si perekrut: 1. Visi/Misi/Values Perusahaan, 2. Job Description, 3. CV dkk., dan 4. Wawancara.

Peralatan 1 & 2 berfungsi sebagai acuan, orang seperti apa sih yang mau dipekerjakan, tugas apa yang akan dilakukan orang ini, dan kemampuan apa yang harus dimiliki orang ini untuk bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Dalam hal pemilu, setiap pemilih sebaiknya memiliki kriteria pemimpin ideal yang akan menjadi acuan dalam menentukan pilihannya. Sifat-sifat seperti apa dan nilai-nilai apa saja yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin? Pemilih perlu melihat sifat dan nilai yang ada dalam pemimpin yang baik dari berbagai sisi mulai dari ilmu kepemimpinan, ilmu psikologi, sampai ajaran agama. Selain itu ada baiknya pemilih paham mengenai tugas dan kewajiban seorang pemimpin rakyat terlebih dahulu baru sehingga pemilih dapat menentukan kemampuan apa yang seharusnya dimiliki seorang pemimpin.

Peralatan 3 & 4 berfungsi untuk mendapatkan gambaran utuh orang seperti apakah si calon pemangku jabatan. Apakah calon pemimpin memenuhi kriteria sifat dan nilai yang telah ditentukan serta memiliki kemampuan yang cukup untuk menjalankan tugasnya. Ada berbagai cara untuk mengenal calon pemimpin selain dengan CV atau wawancara. Beberapa media cetak dan elektronik yang menampilkan pendapat dan pemikiran dari calon pemimpin dapat digunakan untuk menilai karakter, sifat, dan nilai yang dipegang. Bahkan saat ini sudah ada acara debat antar calon yang ditayangkan di televisi yang dapat digunakan untuk menilai calon pemimpin yang satu dengan yang lain secara satu lawan satu sehingga kelebihan dan kekurangan antara calon yang satu dengan yang lain dapat langsung diamati.

Demikian ide yang muncul di kepala saya baru-baru ini, semoga secuil pemikiran ini dapat membantu pembaca sekalian. 🙂

Kesulitan, Kesalahan, & Rasa Bersalah

Kesulitan adalah bagian dari kehidupan. Terkadang kita lupa bahwa tidak ada yang mudah di dunia ini dan ketika menghadapi masalah kita memiliki berbagai macam respon. Di satu sisi kita berjuang dengan penuh keyakinan (sambil berdoa) bahwa kesulitan ini pun pasti kan berlalu. Di sisi lain bisa jadi, kita malah menjadi terbiasa dengan kesulitan sehingga akhirnya kita lupa kita sedang dalam kesulitan!  Ada dua tipe terbiasa tentunya, bisa jadi kita terbiasa menghadapinya atau kita terbiasa membiarkannya.

Sebenarnya saya tidak berniat membahas masalah keterbiasaan terhadap masalah baik menghadapi atau membiarkan, yang ingin saya ceritakan adalah rasa bersalah setelah kesalahan terjadi. Setelah melakukan kesalahan, kita menyadari bahwa kita telah menyakiti orang lain yang tidak bersalah, bahkan tanpa sadar kita juga menyakiti diri kita sendiri. Beberapa minggu lalu saya melakukan suatu kesalahan dan tanpa sadar saya menyakiti orang yang saya sayangi! Oh, setelah beberapa hari saya menyadari bahwa lidah saya telah mempersalahkan pacar saya untuk masalah yang berasal dari dunia lain dan saya merasa begitu bersalah. Untungnya pacar saya ini baik hati dan murah hati :D, namun sayangnya rasa bersalah saya tidak juga berkurang walaupun sudah dimaafkan.

Rasa bersalah ini mengganggu saya tentunya. Dalam otak saya muncul pikiran-pikiran: “apakah dia benar-benar sudah memaafkan saya?”, “betapa bodohnya saya!”, “apakah saya akan dicuekin?”, “seharusnya saya tidak melakukan hal tersebut..”, “apakah dia mau membuatkan saya bekal lagi?”, “apakah dia akan membenci saya?”, “apakah dia akan membuang saya?”, dan seterusnya, dan seterusnya.. Buku-buku tidak dapat mengalihkan perhatian saya dari rasa bersalah. Makanan-makanan yang enak terasa hambar. Televisi yang berisik pun tidak dapat mengambil alih otak saya dari pikiran-pikiran rasa bersalah. Rasanya sulit mempercayai fakta bahwa dia benar-benar sudah memaafkan kesalahan saya.

Setelah mencoba ini dan itu saya tersadar bahwa “saya sudah melakukan kesalahan dan saya akan dibuang oleh pacar saya” hanyalah pikiran saya sendiri. Imajinasi. Khayalan. Ilusi.. Kemudian terlintas di kepala saya “Tertipuu..uuu…uuu…””. Yah, saya tertipu oleh pikiran saya sendiri! Dan, melalui inspirasi yang baru saja didapatkan saya memahami yang tidak mengampuni kesalahan saya adalah diri saya sendiri. Wah..

Rasa bersalah adalah pertanda kita masih memiliki nilai-nilai yang mulia, tetapi jika terlarut di dalamnya berarti ada sesuatu yang salah. Pencarian saya pada akar masalah ini berujung pada sebuah buku berjudul Love Yourself (Edward Richardson, M.M). Dari buku ini saya menyimpulkan: terlarut dalam rasa bersalah merupakan salah satu indikasi kurangnya cinta diri. Saya begitu meyakini pikiran bahwa kesalahan akan membuat diri saya dicampakkan karena saya tidak berharga. Kemudian saya lupa bahwa kita (manusia) diciptakan menurut gambaran Allah yang adalah baik adanya. Saya tidak dapat menyadari bahwa diri sayaa berharga, tidak dapat merasakan adanya cinta tak bersyarat, dan terjebak dalam pikiran-pikiran negatif.

Kunci sukses saya keluar dari sumur rasa bersalah ini adalah saya bertemu dengan seseorang yang mampu menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya, seorang pendengar yang memahami bukan yang menilai atau memberi nasihat yang tidak lain adalah pacar saya sendiri! Wow..

Dari kisah di atas, saya mempelajari bahwa mendengarkan dengan tujuan untuk memahami dan bukan menilai dapat membantu orang yang kurang mencintai dirinya sendiri untuk memahami bahwa dirinya sebenarnya berharga.

Tips Menggoreng Pempek

Ternyata sudah banyak tangan atau bahkan wajah yang menjadi korban minyak panas akibat terciprat atau tersiram minyak panas pada saat menggoreng mpek-mpek. Sebagai salah satu korban, berikut saya berikan sedikit tips agar tidak ada lagi korban yang berjatuhan (*halaah!!) :p

1. Sebelum digoreng sebaiknya pempek dikukus terlebih dahulu (setengah matang).
2. Pastikan pempek yang akan digoreng dalam kondisi kering (tidak berair)
3. Api penggorengan jangan terlalu besar. Kecil saja!
4. Pada saat menggoreng gunakan pelindung bagian-bagian tubuh seperti sarung tangan panjang yang menutupi tangan, atau tutup panci (seperti perisai perang, hehe). Penting sebagai tindakan pencegahan!

Lalu bagaimana bila ternyata Anda merupakan salah satu korban? Saat terkena minyak panas, saya pun kemudian googling mengenai apa yang harus dilakukan sebagai pertolongan pertama. Hasilnya saya semakin bingung karena ada dua opini yang bertentangan. Opini pertama menyatakan oleskan bagian yang terkena minyak panas dengan minyak dingin atau odol, jangan disiram dengan air karena dapat menyebabkan kulit melepuh. Opini kedua menyatakan segera siram dengan air dingin, jangan dioleskan dengan minyak dingin ataupun odol karena dapat menghambat keluarnya panas.

Alhasil, timbul keraguan di dalam hati saya. Kenapa? Karena pertolongan pertama yang saya lakukan adalah mengoleskan bagian yang terkena minyak panas dengan minyak dingin dan odol. Namun, kalau dianalisa berdasarkan risiko, saya rasa tindakan saya tepat, karena lebih baik merasakan panas ‘lebih lama’ dibanding kulit melepuh, hehe 😀

Tips dari saya, begitu terkena minyak panas, langsung oleskan dengan minyak dingin, lalu selang beberapa menit oleskan dengan odol. Setelah kering, dapat ditambahkan dengan madu, diamkan lebih kurang satu-dua jam, kemudian siram dengan air dingin hingga bersih, siap untuk dioleskan salep Bioplacenton.

Terakhir, tips jaga-jaga bagi siapa saja yang sering masak, sedia salep Bioplacenton atau sejenisnya di rumah, Anda! Daaaan, jangan trauma menggoreng lagi! 🙂

siap sedia sarung tangan dan salep bioplacenton

Hello world!

Hello world! Apa kabar dunia?

“Postingan sepiringnasigoreng” yang perdana ini didedikasikan untuk memperkenalkan para koki yang cukup handal di bidangny, hehe.. Bila dilihat pada daftar sang koki, terdapat tiga nama; eleanorsilalahi, meliza766hi dan lukeharis.

elenaorsilalahi, nama ini hanyalah nama ciptaan yang tercetus oleh lukeharis saat pembuatan email dan username blog ini. Nama “eleanor” sendiri memiliki makna “cahaya”. Ya semoga postingan dari eleanorsilalahi (meliza766hi dan lukeharis) mampu “mencerahkan” hari-hari Anda 🙂

Selamat membaca! Selamat menikmati sepiringnasigoreng 😀